Betapa banyak orang yang memiliki fisik yang sempurna, tetapi cacat mentalnya. Namun, tidak sedikit juga di antara manusia yang cacat fisiknya, namun sempurna mentalnya, hanya karena dia memahami benar bahwa semua manusia dianugerahkan kelebihan dan kekurangan oleh Allah SWT.
Semuanya adalah anugerah dan kesempatan. Beruntunglah mereka yang menyadarinya, dan merugilah mereka yang kerjanya hanya mengeluh, mengeluh dan mengeluh atas kekurangan-kekurangannya tanpa mau meng-up gradenya. Betapa banyak orang yang mampu berdiri tegak dan kokoh di atas pijakan kakinya, tetapi mereka hanya bertopang dagu dan tidak mampu memimpin dirinya sendiri. Mereka lebih sibuk dengan masalah-masalah dunianya, daripada sibuk dengan masalah-masalah akhirat. Karena mereka menganggap bahwa masalah (problem) merupakan halangan, rintangan dan rantai diri yang membelenggunya.
Efeknya adalah kita hanya menjadi manusia biasa tanpa mampu memberikan manfaat apapun kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, meskipun semua orang akan berbeda cara dalam berbagi manfaat kepada banyak orang. Jika sampah saja bermanfaat bagi banyak orang karena dapat dijadikan pupuk, demikian juga kotoran yang juga dapat dijadikan pupuk, maka aneh jika manusia yang diciptakan dengan sempurna oleh Allah SWT dibandingkan makhluk lainnya, malah tidak memberikan manfaat apapun. Lalu akan dijadikan dan disamakan seperti apa mereka-mereka itu?
Dalam kehidupan ini, kita akan selalu bertemu dengan bermacam-macam persoalan (masalah), mulai dari terbit matahari sampai matahari terbenam kembali, mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar dan seterusnya. Masalah tersebut datang dan muncul tanpa diundang. Ini membuktikan bahwa masalah tidak dapat kita hindari dan tidak akan mampu kita jauhi. Karena semakin semangat kita menghindar dari suatu masalah, hal itu justru akan membuat kita mendapatkan masalah yang baru.
Yang perlu kita lakukan adalah mendekati masalah, agar kita mengetahui penyebabnya. Yang pada gilirannya kita dapat menyikapi masalah-masalah tersebut. Sebab, berat atau ringannya suatu masalah bukan terletak dari masalah itu sendiri, namun bagaimana sikap dan cara kita menghadapi masalah.
Masalah adalah suatu proses untuk meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik. Betapa tidak menariknya hidup ini jika kehidupan hanya dipenuhi dengan hal-hal yang menyenangkan, dan tidak diiringi dengan masalah yang tidak menyenangkan.
Hidup adalah sebuah proses untuk berubah ke arah yang lebih baik. Selama menjalani proses, banyak pilihan-pilihan yang kita hadapi. Ada kalanya pilihan kita justru menjadi masalah.
Masalah adalah karunia Allah agar kita mendapat dua pertolongan. Sebuah masalah diapit oleh dua kemudahan. Jika kita baru menemukan satu kemudahan, maka kemudahan-kemudahan yang lain akan menyusul. Tidak satu masalah pun dari masalah-masalah yang kita hadapi yang tidak disediakan jalan keluarnya. Semua masalah pasti memiliki jalan keluarnya. Kita harus selalu yakin dengan janji Allah, sehingga kita akan merasa ringan dalam menjalani kehidupan meskipun penuh dengan masalah. Berat atau ringannya suatu masalah yang kita rasakan, semua itu tergantung dari sudut pandang kita sendiri sebagai manusia. Karena sudut pandang kita itu sangat menentukan cara kita dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Jumat, 04 Juni 2010
Senin, 24 Mei 2010
Sesuatu yang Berbentuk Kecil, Belum Tentu Bernilai Kecil
Terkadang kita begitu bersemangat untuk melakukan ibadah-ibadah yang dahsyat. Ingin menghatamkan al-Quran tiap minggu, ingin shalat sunat sebanyak mungkin, ingin berjihad membela umat, dan sebagainya. Hal ini tidaklah salah, sayangnya seringkali kita melupakan hal-hal yang kecil, seperti membersihkan rumah agar selalu bersih, menghabiskan makanan di piring pada saat makan agar tidak mubadzir, mengemil makanan sambil duduk, membaca bismillah terlebih dahulu ketika akan melakukan setiap pekerjaan yang baik dan sebagainya. Padahal kita tidak tahu, dalam kondisi apa Allah menurunkan rahmat kepada kita. Bukankah kisah seorang pelacur masuk surga disebabkan keistiqomahannya memberi minum terhadap seekor anjing sudah banyak diceritakan? Lakukanlah ibadah-ibadah yang besar, namun jangan melupakan ibadah-ibadah kecil, karena besar dan kecilnya suatu ibadah adalah hak Allah untuk mengecilkan dan membesarkannya.
Sudut Pandang Terhadap Kejadian
Sesuatu itu dapat dianggap sebagai musibah atau berkah, keuntungan atau kerugian, kegagalan atau keberhasilan. Bukan dari bentuk kejadian atau peristiwanya, melainkan dari sudut pandang kita terhadap kejadian tersebut. Oleh karena itu bisa jadi, musibah dianggap berkah, kerugian dianggap keuntungan, kegagalan dianggap keberhasilan, dan sebaliknya. Namun, yang pasti, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, karena tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dunia ini tanpa makna dan sia-sia.
Sabtu, 06 Maret 2010
AIRMATA RASULULLAH SAW
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kita tidak usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihimu diakhirat.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kita tidak usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangi mu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihimu diakhirat.
Kamis, 31 Desember 2009
Apa Bedanya Psikolog dengan Psikiater?
1.Psikolog
Apa Itu Psikolog?
Psikolog adalah titel atau gelar S2 bidang profesi psikologi. Seseorang bisa mendapatkan gelar “…, Psi.” di belakang namanya kalau kuliah S1 dan S2-nya sama-sama di psikologi.
Oleh karena itu, orang yang kuliah S1-nya di fakultas psikologi (sekedar informasi, fakultas psikologi di Indonesia untuk S1 tidak ada penjurusan), kalau ingin menjadi psikolog, harus meneruskan S2 di bidang profesi psikologi. Sebab, jika ia meneruskan di bidang sains psikologi, maka gelarnya nanti adalah “…, Msi.” atau magister sains.
Sama halnya jika seseorang yang kuliah S1-nya non-psikologi, namun ingin meneruskan kuliah S2 di bidang psikologi.
Orang tersebut mau-tak-mau harus mengambil bidang sains psikologi, sebab bidang profesi psikologi hanya diperuntukkan kepada lulusan S1 psikologi. Oleh karena itu, orang seperti ini bergelar “…, Msi.”, bukan “…, Psi.”
Apa Yang Bisa Dilakukan Psikolog?
Seorang psikolog, atau lulusan S2 profesi psikologi, nantinya bisa mendapatkan izin praktek psikologi yang bisa digunakan untuk membuka biro konsultasi sendiri, ataupun bergabung menjadi tenaga konsultan psikologi di biro orang lain. Seorang psikolog juga punya hak untuk "memegang" alat tes psikologi. "Memegang" di sini maksudnya menyimpan, menggunakan dan mengoperasikan, juga menginterpretasikan hasil tes kliennya. Jadi, psikolog juga bisa disebut praktisi psikologi.
Hak "memegang" alat tes psikologi ini hanya dipegang oleh psikolog, dan bukan magister sains psikologi. Namun, sebagai informasi tambahan, magister (sains) psikologi dapat mengembangkan teori psikologi yang sudah ada, dan bisa bekerja sebagai dosen di fakultas psikologi. Oleh karena itu, magister psikologi bisa juga disebut ilmuwan psikologi.
Siapa saja calon mahasiswa yang bisa masuk fakultas psikologi?
Semua lulusan SMA/sederajat (SMK, SMIP, MA, dll) dari jurusan manapun (IPA, IPS, Bahasa, atau yang lain) yang berminat belajar psikologi. Akan tetapi, tidak semua perguruan tinggi membuka program studi psikologi untuk lulusan IPS, yang berarti semua lulusan SMA/sederajat dari jurusan apapun bisa masuk. Ada perguruan tinggi yang hanya membuka untuk lulusan dari jurusan IPA seperti UNPAD dan undip.
2. Psikiater
Apa Itu Psikiater?
Pertama-tama, yang perlu anda ketahui, psikiater adalah dokter yang mempelajari ilmu jiwa. Maksudnya, gelar utamanya dokter, tapi dia mengkhususkan diri untuk "mengurusi" kejiwaan manusia. Biasanya, psikiater adalah dokter (S1) yang meneruskan pendidikannya di bidang psikiatri (S2). Oleh karena itu, seorang psikiater mempunyai gelar “dr. …”, dan biasanya di tulis (di papan nama): (atas) dr. A ,(bawah) Psikiater. Makanya, psikiater juga bisa disebut dokter jiwa.
Apa Yang Bisa Dilakukan Psikiater?
Seorang psikiater, karena gelarnya adalah “dokter”, maka orang yang datang untuk "berobat" disebut pasien. Oleh karena itu, psikiater mengobati pasiennya, yang punya masalah kejiwaan, dengan memberikan obat.
Mengapa? Karena beberapa penyakit jiwa bisa jadi disebabkan oleh keadaan tubuh yang sedang tidak sehat, atau ada yang bisa disembuhkan atau dikurangi dengan mengobati organ tubuh yang berhubungan dengan gejala kejiwaan yang sedang diderita.
Siapa saja yang calon mahasiswa yang bisa jadi psikiater?
Yang pasti sih, dari jurusan IPA. Soalnya, untuk jadi psikiater (S2) itu harus belajar kedokteran dulu di S1. Namanya juga “dokter jiwa”.hehe
Apa Itu Psikolog?
Psikolog adalah titel atau gelar S2 bidang profesi psikologi. Seseorang bisa mendapatkan gelar “…, Psi.” di belakang namanya kalau kuliah S1 dan S2-nya sama-sama di psikologi.
Oleh karena itu, orang yang kuliah S1-nya di fakultas psikologi (sekedar informasi, fakultas psikologi di Indonesia untuk S1 tidak ada penjurusan), kalau ingin menjadi psikolog, harus meneruskan S2 di bidang profesi psikologi. Sebab, jika ia meneruskan di bidang sains psikologi, maka gelarnya nanti adalah “…, Msi.” atau magister sains.
Sama halnya jika seseorang yang kuliah S1-nya non-psikologi, namun ingin meneruskan kuliah S2 di bidang psikologi.
Orang tersebut mau-tak-mau harus mengambil bidang sains psikologi, sebab bidang profesi psikologi hanya diperuntukkan kepada lulusan S1 psikologi. Oleh karena itu, orang seperti ini bergelar “…, Msi.”, bukan “…, Psi.”
Apa Yang Bisa Dilakukan Psikolog?
Seorang psikolog, atau lulusan S2 profesi psikologi, nantinya bisa mendapatkan izin praktek psikologi yang bisa digunakan untuk membuka biro konsultasi sendiri, ataupun bergabung menjadi tenaga konsultan psikologi di biro orang lain. Seorang psikolog juga punya hak untuk "memegang" alat tes psikologi. "Memegang" di sini maksudnya menyimpan, menggunakan dan mengoperasikan, juga menginterpretasikan hasil tes kliennya. Jadi, psikolog juga bisa disebut praktisi psikologi.
Hak "memegang" alat tes psikologi ini hanya dipegang oleh psikolog, dan bukan magister sains psikologi. Namun, sebagai informasi tambahan, magister (sains) psikologi dapat mengembangkan teori psikologi yang sudah ada, dan bisa bekerja sebagai dosen di fakultas psikologi. Oleh karena itu, magister psikologi bisa juga disebut ilmuwan psikologi.
Siapa saja calon mahasiswa yang bisa masuk fakultas psikologi?
Semua lulusan SMA/sederajat (SMK, SMIP, MA, dll) dari jurusan manapun (IPA, IPS, Bahasa, atau yang lain) yang berminat belajar psikologi. Akan tetapi, tidak semua perguruan tinggi membuka program studi psikologi untuk lulusan IPS, yang berarti semua lulusan SMA/sederajat dari jurusan apapun bisa masuk. Ada perguruan tinggi yang hanya membuka untuk lulusan dari jurusan IPA seperti UNPAD dan undip.
2. Psikiater
Apa Itu Psikiater?
Pertama-tama, yang perlu anda ketahui, psikiater adalah dokter yang mempelajari ilmu jiwa. Maksudnya, gelar utamanya dokter, tapi dia mengkhususkan diri untuk "mengurusi" kejiwaan manusia. Biasanya, psikiater adalah dokter (S1) yang meneruskan pendidikannya di bidang psikiatri (S2). Oleh karena itu, seorang psikiater mempunyai gelar “dr. …”, dan biasanya di tulis (di papan nama): (atas) dr. A ,(bawah) Psikiater. Makanya, psikiater juga bisa disebut dokter jiwa.
Apa Yang Bisa Dilakukan Psikiater?
Seorang psikiater, karena gelarnya adalah “dokter”, maka orang yang datang untuk "berobat" disebut pasien. Oleh karena itu, psikiater mengobati pasiennya, yang punya masalah kejiwaan, dengan memberikan obat.
Mengapa? Karena beberapa penyakit jiwa bisa jadi disebabkan oleh keadaan tubuh yang sedang tidak sehat, atau ada yang bisa disembuhkan atau dikurangi dengan mengobati organ tubuh yang berhubungan dengan gejala kejiwaan yang sedang diderita.
Siapa saja yang calon mahasiswa yang bisa jadi psikiater?
Yang pasti sih, dari jurusan IPA. Soalnya, untuk jadi psikiater (S2) itu harus belajar kedokteran dulu di S1. Namanya juga “dokter jiwa”.hehe
Senin, 14 Desember 2009
Kurangnya Kesadaran Masyarakat akan Keindahan Makna Tahun Baru Hijriyah dan Menjadikannya sebagai Momentum Kebangkitan Nasional
Pada bulan Desember tahun 2009, terdapat banyak peringatan hari-hari besar dan penting seperti Hari AIDS Sedunia, Hari Anti Korupsi Sedunia, Tahun Baru Hijriyah 1431, Hari Ibu, Hari Natal dan Tahun Baru Masehi 2010.
Apa makna dari sebuah peringatan? Tentunya hal itu tergantung dari sudut pandang mana kita mengapresiasi dan mengekspresikannya. Inti dari sebuah peringatan adalah Lesson Learned. Pengambilan sebuah pelajaran. Pengambilan hikmah di balik sebuah kisah. Dan hikmah yang menurut saya pantas untuk diambil adalah “menuju kehidupan yang lebih baik”. Kehidupan yang lebih baik adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti, dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi. Sebagai sebuah proses yang tidak pernah berhenti, kehidupan yang lebih baik terwujud dalam sebuah ide sekaligus aktifitas fisik kapanpun dan dimanapun manusia berada.
Tinggal beberapa hari lagi, tahun 1430 H akan berakhir dan datanglah Tahun Baru 1431 H. Kemudian akan disusul dengan Tahun Baru Masehi 2010 yang biasanya perayaan Tahun Baru Masehi tersebut penuh dengan keramaian, pesta di mana-mana, kembang api menanggapi tenggelamnya tahun 2009 dan datangnya Tahun Baru 2010 dan kini umat islam akan menyambut Tahun Baru 1431 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009.
Ketika kita diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah dengan tepat dan berurutan, belum tentu kita bisa melakukannya dengan benar. Mungkin hanya segelintir orang saja yang dapat menghafalnya di luar kepala. Berbeda jika kita diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan dalam tahun Masehi, tentu takkan ada kendala berarti apabila kita menghafalnya. Anak-anak kecil pun akan begitu lancar menyebutkannya.
Kalau mau jujur, tahun Hijriyah atau penanggalan islam tidak begitu populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan penanggalan Masehi. Apalagi di tengah anak-anak muda atau ABG zaman sekarang. Meskipun mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum muslim paling banyak yang sering dikenal hanya bulan Ramadhan, Syawal, Muharam dan Dzulhijjah. Sisanya, mungkin mereka berdalih lupa atau bahkan menggeleng-geleng kepala karena tidak tahu.
Di satu sisi, para orang tua atau kakek nenek kita yang akrab dengan penggunaan sistem penanggalan Hijriyah jumlahnya pun terus berkurang, karena dibatasi oleh usia. Di saat mereka sudah pergi, mungkin sebagian besar tidak sempat mewariskan kedekatan dengan tradisi islam itu kepada anak cucunya. Di sisi lain, semakin terkucilnya kalender Hijriyah dari kehidupan sehari-hari masyarakat, mungkin bisa dimaklumi. Wajar saja, karena sistem penanggalan yang dipakai selama ini adalah penanggalan Masehi. Seluruh aktivitas kehidupan, perdagangan, pendidikan, pemerintahan dan lain sebagainya, semuanya berpatokan pada penanggalan Masehi.
Namun, meninggalkan tradisi luhur yang dibangun berabad-abad lalu merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Karena di dalam tahun Hijriyah tersimpan sejarah besar perjuangan membangun peradaban manusia. Sejarah itu telah menjadi ruh dan spirit bagi perjalanan kaum muslim sedunia sampai hari ini. Kesanalah seharusnya kita bercermin.
Hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah menandai suatu ekspansi religius dalam rangka dakwah islamiyyah dan penyampaian risalah kenabian atau dakwah islamiyyah. Berbicara mengenai Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah bisa dilepaskan dari dua kota suci tersebut. Apa hasil yang dicapai melalui peristiwa Hijrah telah banyak ditorehkan dalam tinta-tinta sejarah sejarawan Muslim bahkan sejarawan Barat.
Peristiwa hijrah telah banyak memberi inspirasi bagi komunitas muslim untuk menjadikannya sebagai momentum untu membumikan spirit dan atau semangat perlunya perubahan demi perubahan. Ya, karena hijrah yang secara leksikal berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kondisi ke kondisi yang lain yang juga bisa diartikan perubahan demi perubahan.
Menyadari hakikat Tahun Baru Hijriyah, umat islam sebagai umat terbaik dan sepatutnya menjadi suri tauladan yang baik kepada orang lain haruslah mempunyai cara dan sikap yang menjunjung tinggi ajaran wahyu dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah, agar dapat membedakan dengan cara dan adat orang lain. Sebagai umat islam, umat Nabi Muhammad SAW, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang ditentukan oleh Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan syari’at islam. Cara memperingati tahun baru seperti yang Rasulullah SAW sabdakan: “Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzulhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharam, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah SWT menjadikan kiffarat atau tertutup dosanya selama 50 tahun.
Peringatan Tahun Baru 1431 Hijriyah kali ini jatuh berdekatan dengan Hari Natal 2009 dan Tahun Baru Masehi 2010. Kedekatan peringatan ini merupakan momentum yang baik untuk dijadikan sebagai ajang refleksi dan intropeksi diri, keluarga, masyarakat bangsa dan negara yang bisa kita jadikan sebagai momentum kebangkitan nasional.
Peringatan yang berdekatan ini memungkinkan kita, baik yang muslim, umat kristiani maupun bangsa Indonesia secara keseluruhan untuk merayakannya dalam semangat kebersamaan dan persatuan menuju kehidupan yang lebih baik. Parameter kehidupan lebih baik seperti apa? Seperti yang dicita-citakan oleh masing-masing individu manusia. Agama punya parameter, bangsa juga punya parameter. Kita juga mesti memilikinya. Kehidupan yang lebih baik harus diupayakan di tengah krisis global, krisis multi dimensi dan krisis moral atau akhlak bangsa.
Tahun baru 1431 H merupakan bagian dari perjalanan monumental manusia paling agung yang bernama Muhammad SAW, pelaku penting sejarah tersebut. Angka 1431, mulai dihitung dari hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Sebuah keputusan yang kemudian mengubah seluruh atmosfer jazirah Arab juga belahan dunia lainnya. Penetapan penanggalan Hijriyah itu dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, setelah meminta pertimbangan dari imam Ali bin Abi Thalib. Tepatnya, mulai diberlakukan pada tahun 638 M atau 17 H. Menurut perhitungan tersebut, 1 Muharam tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M.
Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam, memang tidak seramai perayaan Tahun Baru Masehi setiap tanggal 31 Desember. Tidak ada tiupan terompet, pesta kembang api, pagelaran konser musik di mana-mana sampai ke pelosok desa, iring-iringan kendaraan dan lautan manusia yang menyesaki tempat-tempat keramaian. Peringatan Tahun Baru Hijriyah, memang lazimnya lebih menengok ke dalam, menjenguk rohani. Kalaupun ada perayaan, lebih menitikberatkan kepada imbauan untuk meneladani jejak Rasul dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Kedatangan tahun baru islam agak sepi akibat begitu lama umat islam terjajah dan terlalu membesar-besarkan penggunaan kalender Masehi dibandingkan tahun Hijriyah dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini menyebabkan umat islam sendiri tidak ingat bulan-bulan dalam islam kecuali Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Inilah antara lain usaha besar kaum kuffar merusak serta menjauhkan umat islam dari ruh islam, termasuk memastikan umat islam tidak menghayati tahun Hijriyah dalam kehidupan. Agak jarang umat islam mengucapkan selamat tahun baru, umat islam sudah terjajah oleh budaya kuffar. Mungkinkah umat islam mampu memperkasai kembali penggunaan tahun baru Hijriyah? Jawabannya ada pada tindakan dan kesungguhan umat islam dalam merealisasikannya. Jika dalam pemakaian tahun pun susah kita berhijrah maka mungkinkah kita mampu hijrah dari sistem jahiliyah kepada sistem islam?
Setiap memasuki Tahun Baru Hijriyah seperti ini, sudah sepantasnyalah kita meningkatkan kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran bahwa usia kita semakin berkurang, sementara persiapan untuk menyongsong kehidupan abadi di penghujung usia, boleh dikatakan masih jauh dari cukup. Teruslah mengintropeksi untuk memperbaiki diri, meningkatkan dan memperbanyak amalan ibadah juga kesadaran untuk terus memelihara semangat hidup dan selalu bercita-cita menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan lingkungan.
Memang sudah semestinya setiap diri memaknai setiap pergantian tahun dengan sebuah perenungan, melihat sejenak ke belakang, hal-hal apa yang kurang dan mesti diperbaiki, termasuk memancang tekad untuk segera berhijrah dari segala sifat-sifat buruk menuju kepada sifat-sifat terpuji, yang bukan hanya sekedar harapan, namun segera diusahakan dan diwujudkan dalam ikhtiar nyata dengan senantiasa memohon bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT.
Oleh karenanya, makna hijrah harus terinternalisasi dalam diri kita dan diolah menjadi sikap yang luhur dan dinamis dalam menata masa depan yang lebih baik. Melihat kenyataan ini, Indonesia tampaknya harus menjalani hukum sejarah dari sebuah peradaban. Tentunya bangsa ini tidak memaknai “hijrah” dengan perpindahan fisik layaknya “hijrah”nya Nabi meninggalkan Mekkah. Yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah hijrah maknawi. Artinya, bangsa Indonesia butuh semangat “hijrah” dari kemerosotan ekonomi, sosial, politik dan hukum menuju peradaban yang mencerahkan dan menuju kebangkitan nasional. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan masyarakat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tahun baru Hijriyah sudah semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi bangsa Indonesia di titik paling nadir. Untuk itulah, Hijriyah yang diperingati oleh umat islam dan juga bangsa Indonesia kali ini diharapkan menjadi refleksi panjang bangsa ini untuk merajut perubahan yang sebenarnya, yang substantif, produktif dan populistik. Semangat hijrah akan menjadi modal untuk mengembalikan kegairahan inisiatif perubahan tersebut. Oleh karenanya, sangat rugi dan sia-sia apabila Hijriyah yang akan kita peringati bersama hanya sebatas pada refleksi seremonial. Pada momen ini bangsa Indonesia berkesepakatan untuk menguak makna dan semangat Hijrah bagi keberadaban dirinya sendiri. Hijrah juga berarti berubah untuk membangun peradaban baru, seperti Nabi Muhammad SAW meninggalkan Makkah dan membentuk komunitas baru yang berperadaban di Madinah. Semoga bangsa Indonesia mampu “hijrah” dari penderitaan yang membelitnya dan bangkit secara nasional menuju bangsa yang berperadaban.
Apa makna dari sebuah peringatan? Tentunya hal itu tergantung dari sudut pandang mana kita mengapresiasi dan mengekspresikannya. Inti dari sebuah peringatan adalah Lesson Learned. Pengambilan sebuah pelajaran. Pengambilan hikmah di balik sebuah kisah. Dan hikmah yang menurut saya pantas untuk diambil adalah “menuju kehidupan yang lebih baik”. Kehidupan yang lebih baik adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti, dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi. Sebagai sebuah proses yang tidak pernah berhenti, kehidupan yang lebih baik terwujud dalam sebuah ide sekaligus aktifitas fisik kapanpun dan dimanapun manusia berada.
Tinggal beberapa hari lagi, tahun 1430 H akan berakhir dan datanglah Tahun Baru 1431 H. Kemudian akan disusul dengan Tahun Baru Masehi 2010 yang biasanya perayaan Tahun Baru Masehi tersebut penuh dengan keramaian, pesta di mana-mana, kembang api menanggapi tenggelamnya tahun 2009 dan datangnya Tahun Baru 2010 dan kini umat islam akan menyambut Tahun Baru 1431 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009.
Ketika kita diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan dalam tahun Hijriyah dengan tepat dan berurutan, belum tentu kita bisa melakukannya dengan benar. Mungkin hanya segelintir orang saja yang dapat menghafalnya di luar kepala. Berbeda jika kita diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan dalam tahun Masehi, tentu takkan ada kendala berarti apabila kita menghafalnya. Anak-anak kecil pun akan begitu lancar menyebutkannya.
Kalau mau jujur, tahun Hijriyah atau penanggalan islam tidak begitu populer di kalangan masyarakat dibandingkan dengan penanggalan Masehi. Apalagi di tengah anak-anak muda atau ABG zaman sekarang. Meskipun mayoritas penduduk negeri ini adalah kaum muslim paling banyak yang sering dikenal hanya bulan Ramadhan, Syawal, Muharam dan Dzulhijjah. Sisanya, mungkin mereka berdalih lupa atau bahkan menggeleng-geleng kepala karena tidak tahu.
Di satu sisi, para orang tua atau kakek nenek kita yang akrab dengan penggunaan sistem penanggalan Hijriyah jumlahnya pun terus berkurang, karena dibatasi oleh usia. Di saat mereka sudah pergi, mungkin sebagian besar tidak sempat mewariskan kedekatan dengan tradisi islam itu kepada anak cucunya. Di sisi lain, semakin terkucilnya kalender Hijriyah dari kehidupan sehari-hari masyarakat, mungkin bisa dimaklumi. Wajar saja, karena sistem penanggalan yang dipakai selama ini adalah penanggalan Masehi. Seluruh aktivitas kehidupan, perdagangan, pendidikan, pemerintahan dan lain sebagainya, semuanya berpatokan pada penanggalan Masehi.
Namun, meninggalkan tradisi luhur yang dibangun berabad-abad lalu merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Karena di dalam tahun Hijriyah tersimpan sejarah besar perjuangan membangun peradaban manusia. Sejarah itu telah menjadi ruh dan spirit bagi perjalanan kaum muslim sedunia sampai hari ini. Kesanalah seharusnya kita bercermin.
Hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah menandai suatu ekspansi religius dalam rangka dakwah islamiyyah dan penyampaian risalah kenabian atau dakwah islamiyyah. Berbicara mengenai Nabi Muhammad SAW tidak akan pernah bisa dilepaskan dari dua kota suci tersebut. Apa hasil yang dicapai melalui peristiwa Hijrah telah banyak ditorehkan dalam tinta-tinta sejarah sejarawan Muslim bahkan sejarawan Barat.
Peristiwa hijrah telah banyak memberi inspirasi bagi komunitas muslim untuk menjadikannya sebagai momentum untu membumikan spirit dan atau semangat perlunya perubahan demi perubahan. Ya, karena hijrah yang secara leksikal berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kondisi ke kondisi yang lain yang juga bisa diartikan perubahan demi perubahan.
Menyadari hakikat Tahun Baru Hijriyah, umat islam sebagai umat terbaik dan sepatutnya menjadi suri tauladan yang baik kepada orang lain haruslah mempunyai cara dan sikap yang menjunjung tinggi ajaran wahyu dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah, agar dapat membedakan dengan cara dan adat orang lain. Sebagai umat islam, umat Nabi Muhammad SAW, sepatutnya kita menyambut pergantian tahun yang ditentukan oleh Allah sebagai tahun yang dipakai dalam penentuan waktu dalam menjalankan syari’at islam. Cara memperingati tahun baru seperti yang Rasulullah SAW sabdakan: “Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzulhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharam, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah SWT menjadikan kiffarat atau tertutup dosanya selama 50 tahun.
Peringatan Tahun Baru 1431 Hijriyah kali ini jatuh berdekatan dengan Hari Natal 2009 dan Tahun Baru Masehi 2010. Kedekatan peringatan ini merupakan momentum yang baik untuk dijadikan sebagai ajang refleksi dan intropeksi diri, keluarga, masyarakat bangsa dan negara yang bisa kita jadikan sebagai momentum kebangkitan nasional.
Peringatan yang berdekatan ini memungkinkan kita, baik yang muslim, umat kristiani maupun bangsa Indonesia secara keseluruhan untuk merayakannya dalam semangat kebersamaan dan persatuan menuju kehidupan yang lebih baik. Parameter kehidupan lebih baik seperti apa? Seperti yang dicita-citakan oleh masing-masing individu manusia. Agama punya parameter, bangsa juga punya parameter. Kita juga mesti memilikinya. Kehidupan yang lebih baik harus diupayakan di tengah krisis global, krisis multi dimensi dan krisis moral atau akhlak bangsa.
Tahun baru 1431 H merupakan bagian dari perjalanan monumental manusia paling agung yang bernama Muhammad SAW, pelaku penting sejarah tersebut. Angka 1431, mulai dihitung dari hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Sebuah keputusan yang kemudian mengubah seluruh atmosfer jazirah Arab juga belahan dunia lainnya. Penetapan penanggalan Hijriyah itu dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab, setelah meminta pertimbangan dari imam Ali bin Abi Thalib. Tepatnya, mulai diberlakukan pada tahun 638 M atau 17 H. Menurut perhitungan tersebut, 1 Muharam tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M.
Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam, memang tidak seramai perayaan Tahun Baru Masehi setiap tanggal 31 Desember. Tidak ada tiupan terompet, pesta kembang api, pagelaran konser musik di mana-mana sampai ke pelosok desa, iring-iringan kendaraan dan lautan manusia yang menyesaki tempat-tempat keramaian. Peringatan Tahun Baru Hijriyah, memang lazimnya lebih menengok ke dalam, menjenguk rohani. Kalaupun ada perayaan, lebih menitikberatkan kepada imbauan untuk meneladani jejak Rasul dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Kedatangan tahun baru islam agak sepi akibat begitu lama umat islam terjajah dan terlalu membesar-besarkan penggunaan kalender Masehi dibandingkan tahun Hijriyah dalam kehidupan sehari-hari. Budaya ini menyebabkan umat islam sendiri tidak ingat bulan-bulan dalam islam kecuali Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Inilah antara lain usaha besar kaum kuffar merusak serta menjauhkan umat islam dari ruh islam, termasuk memastikan umat islam tidak menghayati tahun Hijriyah dalam kehidupan. Agak jarang umat islam mengucapkan selamat tahun baru, umat islam sudah terjajah oleh budaya kuffar. Mungkinkah umat islam mampu memperkasai kembali penggunaan tahun baru Hijriyah? Jawabannya ada pada tindakan dan kesungguhan umat islam dalam merealisasikannya. Jika dalam pemakaian tahun pun susah kita berhijrah maka mungkinkah kita mampu hijrah dari sistem jahiliyah kepada sistem islam?
Setiap memasuki Tahun Baru Hijriyah seperti ini, sudah sepantasnyalah kita meningkatkan kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran bahwa usia kita semakin berkurang, sementara persiapan untuk menyongsong kehidupan abadi di penghujung usia, boleh dikatakan masih jauh dari cukup. Teruslah mengintropeksi untuk memperbaiki diri, meningkatkan dan memperbanyak amalan ibadah juga kesadaran untuk terus memelihara semangat hidup dan selalu bercita-cita menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan lingkungan.
Memang sudah semestinya setiap diri memaknai setiap pergantian tahun dengan sebuah perenungan, melihat sejenak ke belakang, hal-hal apa yang kurang dan mesti diperbaiki, termasuk memancang tekad untuk segera berhijrah dari segala sifat-sifat buruk menuju kepada sifat-sifat terpuji, yang bukan hanya sekedar harapan, namun segera diusahakan dan diwujudkan dalam ikhtiar nyata dengan senantiasa memohon bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT.
Oleh karenanya, makna hijrah harus terinternalisasi dalam diri kita dan diolah menjadi sikap yang luhur dan dinamis dalam menata masa depan yang lebih baik. Melihat kenyataan ini, Indonesia tampaknya harus menjalani hukum sejarah dari sebuah peradaban. Tentunya bangsa ini tidak memaknai “hijrah” dengan perpindahan fisik layaknya “hijrah”nya Nabi meninggalkan Mekkah. Yang bisa dilakukan oleh bangsa ini adalah hijrah maknawi. Artinya, bangsa Indonesia butuh semangat “hijrah” dari kemerosotan ekonomi, sosial, politik dan hukum menuju peradaban yang mencerahkan dan menuju kebangkitan nasional. Peradaban yang lebih menjamin kesejahteraan masyarakat, keterbukaan dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tahun baru Hijriyah sudah semestinya menjadi momentum untuk merenungkan kembali eksistensi bangsa Indonesia di titik paling nadir. Untuk itulah, Hijriyah yang diperingati oleh umat islam dan juga bangsa Indonesia kali ini diharapkan menjadi refleksi panjang bangsa ini untuk merajut perubahan yang sebenarnya, yang substantif, produktif dan populistik. Semangat hijrah akan menjadi modal untuk mengembalikan kegairahan inisiatif perubahan tersebut. Oleh karenanya, sangat rugi dan sia-sia apabila Hijriyah yang akan kita peringati bersama hanya sebatas pada refleksi seremonial. Pada momen ini bangsa Indonesia berkesepakatan untuk menguak makna dan semangat Hijrah bagi keberadaban dirinya sendiri. Hijrah juga berarti berubah untuk membangun peradaban baru, seperti Nabi Muhammad SAW meninggalkan Makkah dan membentuk komunitas baru yang berperadaban di Madinah. Semoga bangsa Indonesia mampu “hijrah” dari penderitaan yang membelitnya dan bangkit secara nasional menuju bangsa yang berperadaban.
Jumat, 06 November 2009
Mengapa Kenakalan Remaja Semakin Merajalela?
Masalah kenakalan remaja dewasa ini sudah tidak dapat dianggap sepele. Karena hal tersebut telah semakin dirasakan meresahkan masyarakat, baik di negara-negara maju maupun negara-negara yang sedang berkembang. Dalam kaitannya dengan masalah kenakalan remaja ini, masyarakat Indonesia pun telah mulai merasakan keresahan tersebut, terutama mereka yang berdomisili di kota-kota besar. Akhir-akhir ini masalah tersebut cenderung menjadi masalah nasional yang dirasa semakin sulit untuk dihindari, ditanggulangi dan diperbaiki kembali. Oleh karena itu, jika tidak segera ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat mengakibatkan generasi muda pada masa mendatang akan mengalami masa “kebobrokan moral”.
Keberadaan kenakalan remaja di Indonesia saat ini sudah merambah ke dalam segi-segi kriminal yang secara yuridis formal menyalahi ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau perundang-undangan pidana di luar KUHP, misalnya Undang-Undang Narkotika. Kondisi seperti ini jauh lebih rumit daripada sekedar kondisi destruktif dalam perspektif norma-norma sosial dan susila.
Dalam kehidupan sehari-hari, sudah banyak sekali kejadian perbuatan amoral yang telah dilakukan oleh remaja dan anak-anak. Sudah tak terhitung berapa kali peristiwa memperihatinkan seperti pemerkosaan, perkelahian, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan yang dilakukan remaja yang mestinya diharapkan mampu menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari. Yang lebih memperihatinkan, kenakalan remaja tersebut justru banyak terjadi pada kalangan keluarga berada, yang nota bene kebutuhan hidup secara fisik sudah tercukupi atau mungkin malah lebih. Memang harus diakui, kenakalan remaja saat ini sudah merebak dimana-mana. Meskipun belum mencapai titik kritis yang membahayakan stabilitas negara, namun hal tersebut patut untuk diwaspadai. Karena ada kecenderungan, trend kenakalan remaja sekarang sudah mengarah kepada tindak kekerasan dan brutalisme. Yang menjadi persoalan sekarang adalah mengapa zaman sekarang kenakalan remaja semakin merajalela? Apakah semata-mata karena masa remaja adalah masa “storm and drug” yang penuh dengan berbagai gejolak dan goncangan jiwa? Atau karena faktor-faktor lain yang bersifat ekstrinsik? Tulisan ini berusaha untuk mengungkapkan beberapa faktor yang sering menyebabkan munculnya kenakalan remaja.
Dewasa ini, seorang anak sering digolongkan sebagai delinkuen (nakal), jika pada anak tersebut nampak adanya kecenderungan-kecenderungan anti sosial yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, serta perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat.
Perbuatan anak-anak muda yang nyata-nyata bersifat melawan hukum dan anti sosial tersebut pada dasarnya tidak disukai oleh masyarakat, yang disebut juga dengan
problem sosial. Jadi pada dasarnya, problema-problema sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Problema-problema sosial yang berwujud kenakalan remaja tersebut tentu timbul dan dialami oleh sebagian besar kelompok sosial, dan fenomena tadi akan menjadi pusat perhatian sebagian besar anggota masyarakat untuk mendapatkan jalan yang paling efektif di dalam mengatasi baik secara preventif (pencegahan) maupun represif (penekanan). Kenakalan remaja hanyalah merupakan bagian terkecil dari problema-problema sosial yang dialami oleh masyarakat. Dewasa ini, masyarakat sedang dilanda beberapa problem antara lain:
1. Dengan tingginya kualitas kelahiran, timbul masalah kependudukan.
2. Dengan sebab yang beragam, timbul masalah kemiskinan.
3. Karena merosotnya mental, timbul masalah korupsi.
4. Karena degradasi moral dari individu itu, timbul masalah pelacuran baik terang-terangan maupun terselubung.
Secara garis besarnya, masalah-masalah sosial yang timbul karena perbuatan-perbuatan anak remaja itu dirasakan sangat mengganggu kehidupan masyarakat baik di kota maupun di pelosok desa. Akibatnya sangat memilukan, kehidupan mayarakat menjadi resah, perasaan tidak aman bahkan sebagian anggota-anggotanya menjadi terasa terancam hidupnya. Problema tadi pada hakikatnya menjadi tanggung jawab bersama di dalam kelompok. Hal ini bukan berarti masyarakat harus membenci anak delinkuen atau mengucilkannya, akan tetapi justru sebaliknya. Masyarakat dituntut secara moral agar mampu mengubah anak-anak delinkuen menjadi anak saleh, paling tidak mereka dapat dikembalikan dalam kondisi ekuilibrium (seimbang). Keresahan dan perasaan terancam tersebut pasti terjadi, sebab kenakalan-kenakalan yang dilakukan remaja pada umumnya berupa ancaman terhadap hak milik orang lain yang berupa benda, seperti pencurian, penipuan, dan penggelapan, berupa ancaman terhadap keselamatan jiwa orang lain, seperti pembunuhan dan penganiayaan yang menimbulkan matinya orang lain, dan perbuatan-perbuatan ringan lainnya, seperti pertengkaran sesama anak, minum-minuman keras, begadang, atau berkeliaran sampai larut malam.
Unsur solidaritas merupakan pengikat utama di dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap individu di dalam masyarakat harus memilikinya, termasuk anak-anak remaja. Pada dasarnya, secara sosiologis, rasa setia kawan perlu dimiliki oleh anak remaja, karena pada prinsipnya rasa setia kawan dapat melatih mereka untuk memiliki tanggung jawab moral terhadap semua perbuatannya di tengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangan berikutnya rasa setia kawan tersebut dapat membimbing mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan memberi dampak positif bagi kemaslahatan dan kepentingan umum.
Hal lain yang tidak kalah penting dan harus ada di dalam setiap diri anak remaja adalah adanya kesadaran beragama. Secara esensial agama merupakan peraturan-peraturan dari Tuhan Yang Maha Esa berdimensi vertikal dan horizontal yang mampu memberikan dorongan terhadap jiwa manusia yang berakal agar berpedoman menurut peraturan Tuhan dengan kehendaknya sendiri, tanpa dipengaruhi untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat. Maksudnya, jika manusia beragama disertai taat mengamalkan segala ajarannya, kemungkinan besar dia akan taat mengamalkan segala ajarannya dan dia akan hidup secara teratur di dunia ini. Bagi para remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman serta ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama yang dianut. Dalam kenyataan sehari-hari, banyak yang menunjukkan bahwa anak-anak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami norma-norma agama bahkan mungkin lalai menunaikan perintah-perintah agama seperti melaksanakan shalat, puasa, dan lain-lain.
Kenakalan remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat pun bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan remaja tersebut timbul karena beberapa faktor. Apakah faktor-faktor itu?
Lingkungan pertama dan utama yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah keluarga. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali dikenal anak sebelum mengenal lingkungan sekolah dan masyarakat. Oleh karenanya, dalam hubungannya dengan perkembangan anak, keluarga sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Mengapa? Menurut John Locke, yang berdiri di sisi aliran Empiris dengan teorinya “Tabola Rasa” menyatakan bahwa anak-anak itu ibarat meja yang berlapis lilin atau kertas yang putih bersih tanpa goresan apapun. Karena keluarga merupakan lingkungan anak yang pertama, maka keluarga pula lah yang akan menggores pertama kali pada meja berlapis lilin atau kertas yang putih bersih tadi. Sehingga dapat kita maklumi bersama jika keluarga akan banyak menentukan kepribadian anak.
Keluarga juga merupakan lingkungan yang utama bagi anak. Sebab di lingkungan keluarga anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya. Menurut perhitungan sementara ahli, anak akan tinggal di lingkungan keluarga tidak kurang dari 60% dari keseluruhan waktu dalam sehari yang 24 jam. Jadi sangat wajar kiranya jika lingkungan keluarga akan menjadi cermin yang baik terhadap sikap, kepribadian, dan tindakan anak di masyarakat. Namun perlu disadari bersama, bahwa akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan zaman, serta pengaruh budaya barat yang liberal yang telah menyebabkan keluarga tidak dapat memerankan fungsinya sebagaimana proporsi yang sebenarnya dengan skala prioritas yang pas. Pada saat-saat sekarang ini, banyak fungsi-fungsi keluarga yang sudah melemah dan sering dilupakan orang. Lihat saja, betapa komunikasi yang hangat antara ayah, ibu, dan anak-anak semakin menghilang. Orang tua sekarang sudah terlalu sibuk memburu uang dan kekayaan, karena beranggapan bahwa dengan harta mereka akan dapat membahagiakan anak. Tetapi mereka lupa bahwa anak bukan hanya memerlukan kebutuhan materi saja, tetapi juga kasih sayang, perhatian, dorongan dan orang tua di sisinya.
Saat ini sudah banyak kasus, bahwa ketidak hadiran orang tua selama waktu yang agak lama telah menjadi penyebab utama pendidikan anak berantakan dan morat-marit. Belum lagi masalah keagamaan dan nilai-nilai moral yang seharusnya dianut anak juga semakin kabur, sehingga sikap “menghalalkan” segala cara untuk memperoleh kesenanngan menjadi kecenderungan yang dipilih. Kehadiran orang tua yang “sesaat” yang mestinya dapat dimanfaatkan untuk memberi perhatian dan kasih sayang, namun tak urung sering digunakan untuk membentak-bentak dan memarahi anak yang membuatnya frustasi, ketakutan yang amat sangat, perasaan rendah diri, tak berguna, dan sebagainya. Akibatnya anak merasa tidak terlindungi, merasa sendiri dan terasing. Hal inilah yang menjadi penyebab utama anak-anak atau remaja keluar rumah mencari “pelarian” dengan cara begadang di jalanan, mulai akrab dengan minuman keras atau mabuk-mabukan, ganja, morphin, seks, dan kekerasan. Kalau sudah begini, kita bisa merenung apalah artinya harta yang melimpah jika anak-anak berantakan. Anak yang seharusnya dapat membanggakan dan membahagiakan orang tua ternyata dia malah menenggelamkan orang tua ke dalam lembah kehinaan dan penderitaan. Ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus, karena akan menjadi penyakit akut yang mengganas di seluruh lingkungan masyarakat kita. Tidak pandang bulu pada keluarga kita.
Selain keluarga, ajang hidup anak remaja yang lain adalah sekolah. Di sekolah anak remaja menerima pendidikan secara formal, sebagian besar aktifitas di dalamnya lebih ditekankan kepada pembinaan intelektual. Selama proses pendidikan berlangsung terjadi interaksi antara anak remaja sebagai anak didik dengan guru sebagai pendidik. Interaksi tersebut kadang-kadang berjalan lancar dan normal, akan tetapi ada kalanya terjadi ketidaknormalan interaksi. Dalam kenyataan, sering terjadi seorang pendidik bersikap kurang adil terhadap peserta didik dengan alasan hubungan darah, kesamaan ideologi, atau karena kesamaan suku. Sikap pendidik ini akan merugikan dunia pendidikan, bahkan dampak yang lebih jauh peserta didik akan memberi reaksi negatif sebagai awal dari perbuatan delinkuen. Bahkan ada beberapa peserta didik yang sudah tergolong anak delinkuen, misalnya peminum, pengguna narkoba, pezina dan lain sebagainya. Kondisi negatif seperti ini kemungkinan dapat mempengaruhi peserta didik yang lain, yang semula sebagai peserta didik yang baik berubah menjadi delinkuen. Keadaan dan kemungkinan tadi menjadi tanggung jawab para pendidik di sekolah untuk menanggulangi, masyarakat dan orang tua di rumah pun wajib memberi sokongan ke arah kebaikan.
Terlepas dari kondisi keluarga dan tempat pendidikan formal, masyarakat pun kerap kali menjadi ajang tumbuh suburnya kenakalan remaja. Kondisi sosial yang tidak menggembirakan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental anak justru mendorong timbulnya kenakalan remaja, misalnya pelacuran, perjudian, peperangan, dan kemiskinan.
Kenakalan remaja sekarang memang telah membuat orang tua pusing tujuh keliling. Sebab mengatasi kenakalan remaja pada saat ini dengan kekerasan sama halnya menjadikan boomerang bagi orang tua itu sendiri. Bukan tidak mungkin kekerasan orang tua akan dibalas anak dengan kekerasan pula. Bahkan lebih keji.
Untuk “menumpas” kenakalan remaja sampai ke akar-akarnya harus dimulai dari keluarga. Keluarga harus menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi anak.
Selain itu, keluarga juga harus menjadi tempat yang baik untuk berkreasi dan berprestasi. Orang tua harus dapat memberi ayoman di kala anak susah, tetapi juga dapat memberi batasan yang tegas kala tindakan anak mulai menyimpang dari norma. Oleh karena itu, benar juga apa yang dikatakan Kung Futze, bahwa dalam membenahi kebobrokan remaja harus dimulai dengan menegakkan wibawa keluarga. Tiap-tiap anggota keluarga mesti tahu terlebih dahulu akan hak dan kewajibannya. Semua kebiasaan buruk harus diluruskan secara tegas tanpa ragu-ragu. Namun dari kesemuanya itu, ada satu hal yang patut menjadi catatan bagi kita bahwa upaya mengatasi kenakalan remaja harus dimulai dari pembenahan fungsi keluarga agar sesuai dengan porsinya. Dan ini harus diawali dari pembenahan diri orang itu sendiri. Sehingga setiap apa yang dikatakan orang tua kepada anaknya memang betul-betul dapat dilihat anak dengan mata kepala sendiri pada perilaku orang tuanya. Orang tua harus mampu menjadi figur yang baik di mata anak-anak. Sebab hanya dengan cara itu anak akan menghargai dan menghormati orang tuanya, yang nota bene akan menjadi potensi besar orang tua untuk diakui keberadaannya secara wajar di mata anak sekaligus sebagai orang tua yang patut dihormati dan dipatuhi perintah-perintahnya. Dan berdasarkan konsep pendidikan nasional, maka usaha pencegahan kenakalan remaja itu tadi sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Dengan demikian, hal tersebut diharapkan dapat mengurangi timbulnya kenakalan remaja, sehingga mudah-mudahan para remaja Indonesia masih dapat diselamatkan generasinya dan mereka
mampu menjadi pemimpin bangsa pada masa mendatang.
Keberadaan kenakalan remaja di Indonesia saat ini sudah merambah ke dalam segi-segi kriminal yang secara yuridis formal menyalahi ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau perundang-undangan pidana di luar KUHP, misalnya Undang-Undang Narkotika. Kondisi seperti ini jauh lebih rumit daripada sekedar kondisi destruktif dalam perspektif norma-norma sosial dan susila.
Dalam kehidupan sehari-hari, sudah banyak sekali kejadian perbuatan amoral yang telah dilakukan oleh remaja dan anak-anak. Sudah tak terhitung berapa kali peristiwa memperihatinkan seperti pemerkosaan, perkelahian, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan yang dilakukan remaja yang mestinya diharapkan mampu menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari. Yang lebih memperihatinkan, kenakalan remaja tersebut justru banyak terjadi pada kalangan keluarga berada, yang nota bene kebutuhan hidup secara fisik sudah tercukupi atau mungkin malah lebih. Memang harus diakui, kenakalan remaja saat ini sudah merebak dimana-mana. Meskipun belum mencapai titik kritis yang membahayakan stabilitas negara, namun hal tersebut patut untuk diwaspadai. Karena ada kecenderungan, trend kenakalan remaja sekarang sudah mengarah kepada tindak kekerasan dan brutalisme. Yang menjadi persoalan sekarang adalah mengapa zaman sekarang kenakalan remaja semakin merajalela? Apakah semata-mata karena masa remaja adalah masa “storm and drug” yang penuh dengan berbagai gejolak dan goncangan jiwa? Atau karena faktor-faktor lain yang bersifat ekstrinsik? Tulisan ini berusaha untuk mengungkapkan beberapa faktor yang sering menyebabkan munculnya kenakalan remaja.
Dewasa ini, seorang anak sering digolongkan sebagai delinkuen (nakal), jika pada anak tersebut nampak adanya kecenderungan-kecenderungan anti sosial yang sangat memuncak sehingga perbuatan-perbuatan tersebut menimbulkan gangguan-gangguan terhadap keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat, misalnya pencurian, pembunuhan, penganiayaan, pemerasan, penipuan, serta perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan oleh anak remaja yang meresahkan masyarakat.
Perbuatan anak-anak muda yang nyata-nyata bersifat melawan hukum dan anti sosial tersebut pada dasarnya tidak disukai oleh masyarakat, yang disebut juga dengan
problem sosial. Jadi pada dasarnya, problema-problema sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral, karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Problema-problema sosial yang berwujud kenakalan remaja tersebut tentu timbul dan dialami oleh sebagian besar kelompok sosial, dan fenomena tadi akan menjadi pusat perhatian sebagian besar anggota masyarakat untuk mendapatkan jalan yang paling efektif di dalam mengatasi baik secara preventif (pencegahan) maupun represif (penekanan). Kenakalan remaja hanyalah merupakan bagian terkecil dari problema-problema sosial yang dialami oleh masyarakat. Dewasa ini, masyarakat sedang dilanda beberapa problem antara lain:
1. Dengan tingginya kualitas kelahiran, timbul masalah kependudukan.
2. Dengan sebab yang beragam, timbul masalah kemiskinan.
3. Karena merosotnya mental, timbul masalah korupsi.
4. Karena degradasi moral dari individu itu, timbul masalah pelacuran baik terang-terangan maupun terselubung.
Secara garis besarnya, masalah-masalah sosial yang timbul karena perbuatan-perbuatan anak remaja itu dirasakan sangat mengganggu kehidupan masyarakat baik di kota maupun di pelosok desa. Akibatnya sangat memilukan, kehidupan mayarakat menjadi resah, perasaan tidak aman bahkan sebagian anggota-anggotanya menjadi terasa terancam hidupnya. Problema tadi pada hakikatnya menjadi tanggung jawab bersama di dalam kelompok. Hal ini bukan berarti masyarakat harus membenci anak delinkuen atau mengucilkannya, akan tetapi justru sebaliknya. Masyarakat dituntut secara moral agar mampu mengubah anak-anak delinkuen menjadi anak saleh, paling tidak mereka dapat dikembalikan dalam kondisi ekuilibrium (seimbang). Keresahan dan perasaan terancam tersebut pasti terjadi, sebab kenakalan-kenakalan yang dilakukan remaja pada umumnya berupa ancaman terhadap hak milik orang lain yang berupa benda, seperti pencurian, penipuan, dan penggelapan, berupa ancaman terhadap keselamatan jiwa orang lain, seperti pembunuhan dan penganiayaan yang menimbulkan matinya orang lain, dan perbuatan-perbuatan ringan lainnya, seperti pertengkaran sesama anak, minum-minuman keras, begadang, atau berkeliaran sampai larut malam.
Unsur solidaritas merupakan pengikat utama di dalam masyarakat. Oleh karena itu, setiap individu di dalam masyarakat harus memilikinya, termasuk anak-anak remaja. Pada dasarnya, secara sosiologis, rasa setia kawan perlu dimiliki oleh anak remaja, karena pada prinsipnya rasa setia kawan dapat melatih mereka untuk memiliki tanggung jawab moral terhadap semua perbuatannya di tengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangan berikutnya rasa setia kawan tersebut dapat membimbing mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan memberi dampak positif bagi kemaslahatan dan kepentingan umum.
Hal lain yang tidak kalah penting dan harus ada di dalam setiap diri anak remaja adalah adanya kesadaran beragama. Secara esensial agama merupakan peraturan-peraturan dari Tuhan Yang Maha Esa berdimensi vertikal dan horizontal yang mampu memberikan dorongan terhadap jiwa manusia yang berakal agar berpedoman menurut peraturan Tuhan dengan kehendaknya sendiri, tanpa dipengaruhi untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat. Maksudnya, jika manusia beragama disertai taat mengamalkan segala ajarannya, kemungkinan besar dia akan taat mengamalkan segala ajarannya dan dia akan hidup secara teratur di dunia ini. Bagi para remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman serta ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama yang dianut. Dalam kenyataan sehari-hari, banyak yang menunjukkan bahwa anak-anak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami norma-norma agama bahkan mungkin lalai menunaikan perintah-perintah agama seperti melaksanakan shalat, puasa, dan lain-lain.
Kenakalan remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat pun bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan remaja tersebut timbul karena beberapa faktor. Apakah faktor-faktor itu?
Lingkungan pertama dan utama yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anak adalah keluarga. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali dikenal anak sebelum mengenal lingkungan sekolah dan masyarakat. Oleh karenanya, dalam hubungannya dengan perkembangan anak, keluarga sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Mengapa? Menurut John Locke, yang berdiri di sisi aliran Empiris dengan teorinya “Tabola Rasa” menyatakan bahwa anak-anak itu ibarat meja yang berlapis lilin atau kertas yang putih bersih tanpa goresan apapun. Karena keluarga merupakan lingkungan anak yang pertama, maka keluarga pula lah yang akan menggores pertama kali pada meja berlapis lilin atau kertas yang putih bersih tadi. Sehingga dapat kita maklumi bersama jika keluarga akan banyak menentukan kepribadian anak.
Keluarga juga merupakan lingkungan yang utama bagi anak. Sebab di lingkungan keluarga anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya. Menurut perhitungan sementara ahli, anak akan tinggal di lingkungan keluarga tidak kurang dari 60% dari keseluruhan waktu dalam sehari yang 24 jam. Jadi sangat wajar kiranya jika lingkungan keluarga akan menjadi cermin yang baik terhadap sikap, kepribadian, dan tindakan anak di masyarakat. Namun perlu disadari bersama, bahwa akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan zaman, serta pengaruh budaya barat yang liberal yang telah menyebabkan keluarga tidak dapat memerankan fungsinya sebagaimana proporsi yang sebenarnya dengan skala prioritas yang pas. Pada saat-saat sekarang ini, banyak fungsi-fungsi keluarga yang sudah melemah dan sering dilupakan orang. Lihat saja, betapa komunikasi yang hangat antara ayah, ibu, dan anak-anak semakin menghilang. Orang tua sekarang sudah terlalu sibuk memburu uang dan kekayaan, karena beranggapan bahwa dengan harta mereka akan dapat membahagiakan anak. Tetapi mereka lupa bahwa anak bukan hanya memerlukan kebutuhan materi saja, tetapi juga kasih sayang, perhatian, dorongan dan orang tua di sisinya.
Saat ini sudah banyak kasus, bahwa ketidak hadiran orang tua selama waktu yang agak lama telah menjadi penyebab utama pendidikan anak berantakan dan morat-marit. Belum lagi masalah keagamaan dan nilai-nilai moral yang seharusnya dianut anak juga semakin kabur, sehingga sikap “menghalalkan” segala cara untuk memperoleh kesenanngan menjadi kecenderungan yang dipilih. Kehadiran orang tua yang “sesaat” yang mestinya dapat dimanfaatkan untuk memberi perhatian dan kasih sayang, namun tak urung sering digunakan untuk membentak-bentak dan memarahi anak yang membuatnya frustasi, ketakutan yang amat sangat, perasaan rendah diri, tak berguna, dan sebagainya. Akibatnya anak merasa tidak terlindungi, merasa sendiri dan terasing. Hal inilah yang menjadi penyebab utama anak-anak atau remaja keluar rumah mencari “pelarian” dengan cara begadang di jalanan, mulai akrab dengan minuman keras atau mabuk-mabukan, ganja, morphin, seks, dan kekerasan. Kalau sudah begini, kita bisa merenung apalah artinya harta yang melimpah jika anak-anak berantakan. Anak yang seharusnya dapat membanggakan dan membahagiakan orang tua ternyata dia malah menenggelamkan orang tua ke dalam lembah kehinaan dan penderitaan. Ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus, karena akan menjadi penyakit akut yang mengganas di seluruh lingkungan masyarakat kita. Tidak pandang bulu pada keluarga kita.
Selain keluarga, ajang hidup anak remaja yang lain adalah sekolah. Di sekolah anak remaja menerima pendidikan secara formal, sebagian besar aktifitas di dalamnya lebih ditekankan kepada pembinaan intelektual. Selama proses pendidikan berlangsung terjadi interaksi antara anak remaja sebagai anak didik dengan guru sebagai pendidik. Interaksi tersebut kadang-kadang berjalan lancar dan normal, akan tetapi ada kalanya terjadi ketidaknormalan interaksi. Dalam kenyataan, sering terjadi seorang pendidik bersikap kurang adil terhadap peserta didik dengan alasan hubungan darah, kesamaan ideologi, atau karena kesamaan suku. Sikap pendidik ini akan merugikan dunia pendidikan, bahkan dampak yang lebih jauh peserta didik akan memberi reaksi negatif sebagai awal dari perbuatan delinkuen. Bahkan ada beberapa peserta didik yang sudah tergolong anak delinkuen, misalnya peminum, pengguna narkoba, pezina dan lain sebagainya. Kondisi negatif seperti ini kemungkinan dapat mempengaruhi peserta didik yang lain, yang semula sebagai peserta didik yang baik berubah menjadi delinkuen. Keadaan dan kemungkinan tadi menjadi tanggung jawab para pendidik di sekolah untuk menanggulangi, masyarakat dan orang tua di rumah pun wajib memberi sokongan ke arah kebaikan.
Terlepas dari kondisi keluarga dan tempat pendidikan formal, masyarakat pun kerap kali menjadi ajang tumbuh suburnya kenakalan remaja. Kondisi sosial yang tidak menggembirakan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental anak justru mendorong timbulnya kenakalan remaja, misalnya pelacuran, perjudian, peperangan, dan kemiskinan.
Kenakalan remaja sekarang memang telah membuat orang tua pusing tujuh keliling. Sebab mengatasi kenakalan remaja pada saat ini dengan kekerasan sama halnya menjadikan boomerang bagi orang tua itu sendiri. Bukan tidak mungkin kekerasan orang tua akan dibalas anak dengan kekerasan pula. Bahkan lebih keji.
Untuk “menumpas” kenakalan remaja sampai ke akar-akarnya harus dimulai dari keluarga. Keluarga harus menjadi tempat bernaung yang nyaman bagi anak.
Selain itu, keluarga juga harus menjadi tempat yang baik untuk berkreasi dan berprestasi. Orang tua harus dapat memberi ayoman di kala anak susah, tetapi juga dapat memberi batasan yang tegas kala tindakan anak mulai menyimpang dari norma. Oleh karena itu, benar juga apa yang dikatakan Kung Futze, bahwa dalam membenahi kebobrokan remaja harus dimulai dengan menegakkan wibawa keluarga. Tiap-tiap anggota keluarga mesti tahu terlebih dahulu akan hak dan kewajibannya. Semua kebiasaan buruk harus diluruskan secara tegas tanpa ragu-ragu. Namun dari kesemuanya itu, ada satu hal yang patut menjadi catatan bagi kita bahwa upaya mengatasi kenakalan remaja harus dimulai dari pembenahan fungsi keluarga agar sesuai dengan porsinya. Dan ini harus diawali dari pembenahan diri orang itu sendiri. Sehingga setiap apa yang dikatakan orang tua kepada anaknya memang betul-betul dapat dilihat anak dengan mata kepala sendiri pada perilaku orang tuanya. Orang tua harus mampu menjadi figur yang baik di mata anak-anak. Sebab hanya dengan cara itu anak akan menghargai dan menghormati orang tuanya, yang nota bene akan menjadi potensi besar orang tua untuk diakui keberadaannya secara wajar di mata anak sekaligus sebagai orang tua yang patut dihormati dan dipatuhi perintah-perintahnya. Dan berdasarkan konsep pendidikan nasional, maka usaha pencegahan kenakalan remaja itu tadi sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Dengan demikian, hal tersebut diharapkan dapat mengurangi timbulnya kenakalan remaja, sehingga mudah-mudahan para remaja Indonesia masih dapat diselamatkan generasinya dan mereka
mampu menjadi pemimpin bangsa pada masa mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)